Hari ini lagi-lagi ku menemukan keibaan hati yang jatuh pada seorang bocah yang duduk dipinggiran jalan koridor kampus ku. Saat itu aku sedang berjalan bersama 2 teman wanita dari kampus menuju kosan kita masing-masing, Sore itu menjelang terbenamnya matahari yang membuat langit sudah lebih kelabu dan kelam dari siang.
Anak bocah itu ternyata sedang menunggu dagangannya laku,tapi kulihat jalanan disekitar itu sepi karena mungkin sedang dalam bulan puasa yang biasanya pada jam segitu orang-orang sudah sibuk di-rumah makan - rumah makan untuk bersiap-siap menjelang berbuka puasa ataupun juga karena dilingkungan kampus yang biasanya di lalui oleh mobil-mobil pribadi mereka yang berduit ataupun motor-motor mereka yang berasap yang tak sempat lagi berhenti untuk membeli jajanan bocah itu, jangankan berhenti membeli, melihat apa yang anak itu dagangpun kurasa tidak sempat.
Bocah tersebut kulihat dengan mata yang agak memerah juga sedikit berair dan wajah yang sangat memelaskan, kulihat semua dagangannya masih tersusun rapih dan komplit dalam bak dagangannya, saat itu ku lihat bocah tersebut sedang menunggu makanan kecil yang di kemas dalam pelastik-pelastik kecil itu laku dan berharap dagangannya yang dapat segera habis. Namun, fikir ku takkan mungkin habis terjual di tempat yang sangat sepi itu.
kaki kami pun terhenti pada langkah ke-6 setelah melewati tempat anak tersebut duduk berlesehan dengan dagangannya. Aku menoleh kebelakang dengan sambil berisyarat dan berkata kepada kedua teman wanita yang sedang jalan bareng dengan ku bahwa kita mempunyai pikiran dan hati yang sama kalau kita harus melangkah balik ke belakang dan mendatangi bocah tersebut. Saat kita datangi, hati kita bertiga pun semakin iba karena mendengar perkataan bocah tersebut yang menawari kita untuk membeli barang dagangannya.
Setelah membeli sedikit dagangan bocah tersebut kemudian terjadi sedikit percakapan antara aku bertiga dengan si bocah tersebut, akhirnya kami pun tahu bahwa anak tersebut masih sekolah dijenjang kelas 5 SD. Sebelum meninggalinya sendirian lagi kami menasehati ke bocah itu bahwa dia jangan pernah berhenti sekolah ataupun berhenti berjuang dalam keadaan apapun, paling tidak sampai anak itu bisa mempunyai ijazah sampai strata SMA. Agar dalam hidup dewasanya nanti bocah itu sudah mempunyai bekal yang cukup untuk kerja ditempat-tempat yang sudah terlalu mensyarati ijazah sebagai poit pertama untuk mendapat kerja.
Yang aku sesali saat itu dalam fikiran ku adalah kenapa kita yang hidup di Negara yang sudah lama merdeka ini namun masih sangat sering menemui orang-orang yang masih tertindas dengan zaman yang semakin gila, semakin lama merdeka namun semakin banyak dan sering pula melihat fenomena-fenomena yang mengibakan seperti itu.
Seakan-akan aku ingin berpesan kepada seluruh manusia penghuni bumi untuk lebih peka terhadap lingkungan yang ada di sekitar kita..
Dalam hati ku berdoa..
(Khairizal Anwar)