Teman-teman senasib yang linglung dikampus
Kampus kini sudah tidak bersahabat
Duduk berkumpul dikampus sudah tak nyaman lagi
Yang tidak senasib bicara tentang skripsi dan sidang-sidang komprehensifnya
Bukankah itu kesombongan yang amat terlalu didepan kita
Mari kita cerita-cerita tentang kesenangan saja
Yang senasib mari berkumpul bersama
Jauh suasana yang dulu asri sekarang mencekam
Jenuhnya jadi predikat mahasiswa akhir ini
Bernyanyi saja kawan biar tenang
Yang maen gitar imam al-jabluk yang nyanyi ridho maunya
Oh senangnya ini suasana jadinya
Semua jadi gembira bersama-sama bernyanyi
Anggota kita nambah lagi ada yang baru pulang dari desanya
Ada yang baru selesai kkn juga ikut bernyanyi lagi
Yang laen sudah biasa ikut-ikutan ya diizinkan saja.
hidup ini setiap harinya selalu dihabiskan dibawah canopy langit yang sama, hingga kita tanpa sadar hidup satu atap dengan yang lainnya..
Senin, 07 Februari 2011
“Kau dan Aku Berbeda Persepsi”
Aku anggap kumpulan emas, kamu anggap hanya butiran pasir yang tak bernilai
Sudah lama rasa simpati ini hadir untuk mu, ku tanam, ku pupuk, kusiram dan ku biarkan tumbuh
Berharap dapat bersemi indah, namun persepsi kita terhadap cinta masih tak kunjung sama
Memang persepsi yang kita samakan bukanlah tentang 2 pemikiran, namun 2 perasaan manusia yang berbeda kelamin
Aku anggap kau wanita sempurna, sedang engkau anggap aku laki-laki biasa saja
Takkan ada penggabungan rasa, kalau kau dan aku tidak sama-sama belajar tentang “ilmu dasar penggabungan persepsi antara 2 manusia yang berbeda kelamin”
Mungkin kamu dapat dengan mudah melihat ku pergi dengan pasanganku nanti, tapi lain soal dengan ku jika kau yang berbuat seperti itu.
Mungkin aku terlalu yang menganggap berlebihan dengan proses yang kita jalani ini
Aku anggap proses yang kau dan aku jalani itu megah
Namun kau seakan menilainya sederhana saja.
Sudah lama rasa simpati ini hadir untuk mu, ku tanam, ku pupuk, kusiram dan ku biarkan tumbuh
Berharap dapat bersemi indah, namun persepsi kita terhadap cinta masih tak kunjung sama
Memang persepsi yang kita samakan bukanlah tentang 2 pemikiran, namun 2 perasaan manusia yang berbeda kelamin
Aku anggap kau wanita sempurna, sedang engkau anggap aku laki-laki biasa saja
Takkan ada penggabungan rasa, kalau kau dan aku tidak sama-sama belajar tentang “ilmu dasar penggabungan persepsi antara 2 manusia yang berbeda kelamin”
Mungkin kamu dapat dengan mudah melihat ku pergi dengan pasanganku nanti, tapi lain soal dengan ku jika kau yang berbuat seperti itu.
Mungkin aku terlalu yang menganggap berlebihan dengan proses yang kita jalani ini
Aku anggap proses yang kau dan aku jalani itu megah
Namun kau seakan menilainya sederhana saja.
Langganan:
Postingan (Atom)