hidup ini setiap harinya selalu dihabiskan dibawah canopy langit yang sama, hingga kita tanpa sadar hidup satu atap dengan yang lainnya..
Rabu, 20 April 2011
Malam Ini Malam Minggu
Aku duduk disini diatas sebuah bantal yang dialaskan karpet dibawahnya, dikamar abang kandung ku ini, didepan sebuah komputer. Sejak sehabis magrib aku mulai duduk disini, sekedar menghilangkan kebosanan kehidupanku yang flat ini. Sudah habis puluhan lagu aku dengar dari suara yang keluar dari spiker komputer, sudah habis berbatang-batang rokok ku hisap untuk mengiringi malam minggu ku ini, dan sudah 2 cangkir kopi hitam pula habis ku minum. Namun nyatanya ketika aku tersadar, ternyata ini baru jam setengah sepuluh malam. Ya, kira-kira aku baru menghabiskan 3 jam malam minggu ku disini, padahal aku sudah berharap lebih dengan lagu, rokok dan kopi itu untuk dapat membawa ku pada sang fajar. Bahwasannya pengalaman malam minggu ini menjadi pelajaran bagi ku dikemudian malam-malam minggu selanjutnya.
Perayaan Car Free Day
Car Free Day, kalau boleh aku mengartikannya dalam bahasa pribumi yaitu Hari Bebas Mobil, Tapi kenapa orang-orang merayakannya dengan bersepeda. Oh.. mungkin karena orang-orang mengartikanya sama dengan “bicycle today”.hahaha.. tapi semua itu bebas saja dirayakan dengan dan seperti apa, asal bukan dengan mobil! Yeaaahhh…
Pepatah Apakah Itu?
Aku terlalu sibuk berkhayal dan berpikir, sampai-sampai aku tidak sempat beraksi sedikitpun. Status masih pengemis ilmu, jangan sombong!, Si Mahatma Gandhi saja tidak sombong walaupun sudah menjadi pengusaha ilmu. Butuh proyek agar mapan, butuh seni untuk peremajaan jiwa, butuh al-quran dan hadits sebagai tuntunan hidup yang menjembatani dua alam antara dunia dengan akherat.
Pepatah bilang begini, pepatah bilang begitu… oh saya yakin orang-orang “besar” itu “lahir” bukan karena mengikuti pepatah, tapi kerja keras! Setelah “besar” mereka membuat pepatahnya masing-masing, lantas kita percaya begitu saja, padahal mereka sendiri tidak percaya dengan pepatah orang lain! Ucapan-ucapan mereka tersusun rapi dalam siratan kitab-kitab tebal yang akhirnya diburu oleh para “pengemis”. lantas Kita yang percaya cuapan orang-orang “besar” seperti Plato, Mahatma Gandhi, Karl Max, dan lain-lain, padahal dalam hati mereka berkata “mampus kalian tertipu!!”.
Ambil ilmuNya dan ambil hikmahNya, jangan-jangan kalian percaya dengan kata-kata saya ini.. oh hati-hati barangkali kalian itulah yang tertipu!:)
Pepatah bilang begini, pepatah bilang begitu… oh saya yakin orang-orang “besar” itu “lahir” bukan karena mengikuti pepatah, tapi kerja keras! Setelah “besar” mereka membuat pepatahnya masing-masing, lantas kita percaya begitu saja, padahal mereka sendiri tidak percaya dengan pepatah orang lain! Ucapan-ucapan mereka tersusun rapi dalam siratan kitab-kitab tebal yang akhirnya diburu oleh para “pengemis”. lantas Kita yang percaya cuapan orang-orang “besar” seperti Plato, Mahatma Gandhi, Karl Max, dan lain-lain, padahal dalam hati mereka berkata “mampus kalian tertipu!!”.
Ambil ilmuNya dan ambil hikmahNya, jangan-jangan kalian percaya dengan kata-kata saya ini.. oh hati-hati barangkali kalian itulah yang tertipu!:)
Analogi Nama Khairizal Anwar
“Khairizal anwar” diambil dari bahasa arab, dan jika diartikan kedalam bahasa Indonesia yaitu “kebaikan yang bercahaya”. Baik tapi bercahaya/bercahaya tapi baik? Terserah apakah itu.
Mungkin bisa saja dianalogikan seperti kunang-kunang, kunang-kunang dapat menimbulkan cahaya, tapi apakah kunang-kunang itu baik? Entah.
Atau mungkin dapat dianalogikan dengan ikan lumba-lumba, konon katanya hewan itu baik suka menolong. Tapi lumba-lumba kan tidak bercahaya!
Oh.. mungkin maksudnya matahari, dia dapat becahaya dan dapat diartikan baik bagi seluruh isi bumi yang membutuhkan sinar dan hangat cahaya dari nya, tapi kurang klop rasanya bila dianalogikan dengan zat yang tidak bernyawa.
Mungkin lebih baik saya gabung saja ketiganya untuk menanalogikan nama saya.
Jadi, “khairizal Anwar” bila dianalogikan seperti kunang-kunang yang ditolong oleh lumba-lumba dibawah sinar matahari. :)
Mungkin bisa saja dianalogikan seperti kunang-kunang, kunang-kunang dapat menimbulkan cahaya, tapi apakah kunang-kunang itu baik? Entah.
Atau mungkin dapat dianalogikan dengan ikan lumba-lumba, konon katanya hewan itu baik suka menolong. Tapi lumba-lumba kan tidak bercahaya!
Oh.. mungkin maksudnya matahari, dia dapat becahaya dan dapat diartikan baik bagi seluruh isi bumi yang membutuhkan sinar dan hangat cahaya dari nya, tapi kurang klop rasanya bila dianalogikan dengan zat yang tidak bernyawa.
Mungkin lebih baik saya gabung saja ketiganya untuk menanalogikan nama saya.
Jadi, “khairizal Anwar” bila dianalogikan seperti kunang-kunang yang ditolong oleh lumba-lumba dibawah sinar matahari. :)
Rabu, 06 April 2011
cemilan sebatang gula merah
Siang pukul dua aku tertawa dikosan, entah mulai dari mana hingga hal yg begini kutertawakan. Jelas aku berfikir dan membandingkan bila ku tertawa. Aku melihat cemilan di rak bawah tivi disamping komputer yang sedang ku nyalakan, sebuah bungkusan kecil berisi gula merah sisa aku naik gunung yang masih terbungkus rapi. Aku yang dari pagi belum sempat makan, atau memang tidak punya duit lebih tepatnya jadi harus mengirit untuk tidak makan, aku buru-buru membuka bungkusan itu dan mulai mengigit-gigit sedikit demi sedikit gula merah itu. Saat itu seakan perut yang berasa masam berubah menjadi manis, menjadi lebih bertenaga.
Aku menikmati sekali gula merah itu, kemudian aku mulai tertawa. apa yang kutertawakan?! Ya karena aku mulai membandingkan pastinya. Soal cemilan siang ku ini yang unik. Aku membandingkan cemilan yang ku punya ini dengan kebiasaan cemilan orang lain. Biasanya orang lain memiliki cemilan dikamarnya toples kue-kue atau makanan ringan yang renyah seperti chiki atau coklat, sedang aku sebuah gula merah batangan.
*memang ternyata gula merah berguna agar tubuh lebih bertenaga, hal ini dikarenakan sifatnya yang manis dan baik bagi metabolisme tubuh yang sedang lemes apalagi bagi orang yang mencari cemilan dengan harga murah. :D
Aku menikmati sekali gula merah itu, kemudian aku mulai tertawa. apa yang kutertawakan?! Ya karena aku mulai membandingkan pastinya. Soal cemilan siang ku ini yang unik. Aku membandingkan cemilan yang ku punya ini dengan kebiasaan cemilan orang lain. Biasanya orang lain memiliki cemilan dikamarnya toples kue-kue atau makanan ringan yang renyah seperti chiki atau coklat, sedang aku sebuah gula merah batangan.
*memang ternyata gula merah berguna agar tubuh lebih bertenaga, hal ini dikarenakan sifatnya yang manis dan baik bagi metabolisme tubuh yang sedang lemes apalagi bagi orang yang mencari cemilan dengan harga murah. :D
Langganan:
Postingan (Atom)