Prolog>>
Anissa
permatasari, saya hafal nama panjangnya sejak saat dimana dia “datang”
menghampiri kehidupan ku. Aku memanggilnya nisha, anak perempuan umur 20an
sejak dia datang ke Bandung, kota dimana saya sedang menempuh pendidikan tingkat
perguruan tinggi. Disini pula, di Bandung dia menjalankan niat yang sama
seperti saya. Sejak setelah 3 tahun setelah saya “menetap” di Bandung, nisha
menelepon saya pada suatu malam untuk menanyakan informasi-informasi tentang
perguruan tinggi saya, dari situ saya tahu kalau dia ingin melanjutkan S1 di
perguruan tinggi yang sama dengan saya, setelah sebelumnya dia menyelesaikan
studi D3 nya di perguruan tinggi di Jakarta. Entah darimana dia tahu nomer
kontak saya, namun yang jelas nisha perempuan yang sudah saya kenal sebelumnya,
karena kami dulunya memang satu sekolah walaupun tak pernah satu kelas,
sehingga tak begitu akrab saat itu.
Sejalan
dengan waktu, setelah beberapa bulan nisha “resmi” menetap juga di Bandung
seperti saya, akhirnya kami bertemu pada kali pertama di Bandung. Saat itu
bulan ramadhan kita buka puasa bersama di tempat makan pinggiran jalan simpang Dago
Bandung. Setelah itu banyak lagi pertemuan - pertemuan kita yang terangkum
dalam kisah cerita. Akhir cerita, nisha lulus dan diwisuda lebih dahulu dari ku
setelah dua tahun hidup dengan “nasib” di kota persinggahan yang sama.
Testimonial>>
Nisha,
dalam “penglihatan ku” merupakan perempuan yang banyak memiliki “warna”
kehidupannya sendiri. Perempuan yang bersahaja dalam tingkah pada orang - orang
yang menjadi temannya. Perempuan yang mengerti bagaimana cara memperlakukan teman
- temannya sehingga nyaman dengannya. Perempuan yang selalu telihat ceria dan
memberikan keceriaan bagi orang-orang didekatnya. Perempuan yang sangat perhatian
dengan orang-orang yang berada di samping hidupnya. Perempuan sederhana yang
berlaku dengan apa adanya tanpa perlu berpura-pura. Hingga aku pun melihatnya
sebagai teman yang istimewa.
Anissa, kini kau
telah menjelma menjadi perempuan dewasa.
Kemandirian dalam
hidup kini telah kau ciptakan sendiri.
Perempuan berjilbab
cantik kini telah menemui jalannya sendiri.
Yang setia
mendampingi kau kini adalah guru - guru dari ilmu dan pengalaman mu dahulu.
Janganlah semangat
mu patah dalam kerasnya renda - renda kehidupan yang kau jalani.
Bila nanti kau
berhadapan pada sebuah persimpangan dalam hidup mu, janganlah itu membuat mu
ragu, janganlah itu membuat mu takut.
Karena aku
mengenal mu sebagai perempuan tegar, jadi ku mohon jangan bersedih.
Sebab, yakinlah bahwa
Tuhan selalu ada dimana kau berada.
Kenanglah sejarah-sejarah
hidup mu yang dahulu, yang nakal maupun yang santun. Agar kau kenang pula
tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.
Dan kini ku
sertakan nama mu dalam doa, semoga kamu disana baik - baik saja.
Jadilah perempuan besar, bagai ratu adil yang hidup nyaman dalam istana serta dekat dengan rakyat -rakyatnya.
Jadilah perempuan besar, bagai ratu adil yang hidup nyaman dalam istana serta dekat dengan rakyat -rakyatnya.