Selasa, 01 September 2009

Si Bocah Pengamen Jalanan

Si bocah menjadi petuah

Suatu saat aku melihat bocah kecil di kota Jakarta melintas di perempatan lampu merah bersama teman-teman sebayanya berkalungkan gitar okulele kecil yang sudah agak lapuk..berbaju kumal tidak wajar.. kemudian memasuki angkutan umum satu persatu untuk rela menghibur dengan suara nyanyianya..

Dalam fikir ku..kenapa kok mereka ngga senikmat hidup ku yang bisa duduk nyaman di atas bis metromini sambil mendengarkan lagu nyanian yang mereka bawakan dengan suara okulele yang garing..

Namun..

Setiap kita, mempunyai nasib dan kesempatan yang berbeda-beda dalam hidup.. mungkin jalan hidup si bocah tersebut adalah sebuah tuntutan perut laparnya, atau tuntutan hati mereka yang rela berkeringat sedini mungkin demi keluarganya..

Kita yang hidup dalam kenikmatan mungkin jarang berempati ataupun bersimpati terhadap nasib orang-orang seperti itu..kebanyakan dari kita lebih sering memikirkan mengapa kita tidak bisa mempunyai mobil pribadi yang lebih mewah dari orang lain yang lebih bisa dibanggakan kepada orang-orang disekitar kita..

Saat ini seharusnya aku lebih bisa bersyukur karna menjadi kaum orang-orang diantara atas dan bawah.. aku bisa melihat keatas sebagai fighting spirit of life..dan aku bisa melihat kebawah sebagai petuah bijak dalam tuntunan hidup yang sederhana..

Dalam syukur ku berdoa..

(Khairizal Anwar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar