Minggu, 12 Desember 2010

negri kami

Hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun kami tetap berada pada pijakan yang sama, negri Indonesia.
Negri dengan berjuta-juta karunia ilahi
Negri yang penuh dengan harapan
Negri yang penuh dengan cinta kasih para penduduknya
Negri yang memberikan banyak kesempatan
Negri yang bergotong royong
Negri yang menjunjung azas egaliter namun sudah jarang sekali kita temukan warga yang berempati lagi
Ataukah negri ini terlalu banyak bencana, sehingga membuat manusia2nya malas bersimpati lagi.
Kami ingat sekali dengan nuansa alam yang indah yang telah kau berikan negri ku
Birunya laut, megahnya pegunungan, hijaunya sawah, jernihnya sungai, merdunya kicauan burung, ikan2 cantik yang berenang di lautan negri ini, kami dapatkan semua pada mu negri. Namun telah kami rubah semua anugrah yang kau berikan. Lautan biru menjadi hitam, gunung2 menjadi gundul, hutan2 lebat menjadi jarang, sungai2 jernih menjadi keruh, burung2 kami paksa tak bernyanyi, ikan2 sudah jarang yang mau singgah di lautan mu.
Apakah kamu marah pada bangsa ini wahai negri, kau kirimkan pesan2 kemanusiaan pada tsunami di aceh dan mentawai, gempa di padang dan garut, gunung meletus di jogja yang membungkam kota mu, serta banjir2 di Jakarta dan wasior.


Demi negri, kami harus malu, berkaca dan berikrar untuk tidak membuat mu marah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar