Minggu, 24 Juni 2012

BERADU KOMEN DALAM FACEBOOK DENGAN CARA PUISI : KHAIRIZAL ANWAR


Kini aku beratapkan tenda kusam, aku berharap cahaya fajar yang menyilaukan datang, menjamah hangat tenda ku dengan lembut mesra, Ooh.. bunga terkasih dirimulah yang aku puja laksana ratu pagi yang hangat merangkul bumi. Bagi ku kau bukan saja bunga biasa yang mereka sebut mawar, yang harum elok dan baunya sesaat berselang kemudian kan layu. Kau adalah edelweis, bunga keabadian itu, elok  rupanya dan baunya kan tetap sama sejak saat pertama bertemu dan akan tetap sama hingga tua nanti. Waahh.. ingin sekali aku jilati bau tubuh mu.

Diri ku lemas, malam ini aku berkeluh kesah melihat perempuan istana yang dikawal ribuan pasang mata. Sorot mata  penuh curiga menghakimi kedatangan ku pada jamuan pesta mu. Raja yang bersanding acuh tak acuh, tak persilahkan aku berbicara, malam ini aku bisu, jamuan – jamuan yang tersaji terasa pahit dalam mulut ku dan mual dalam lambung ku. Biar aku sudra biar aku bisu, namun hati ku tetap mampu berbicara manis tentang cinta untuk mu.

Aku takkan pernah letih mencari perempuan yang fitri dalam tingkah dan ucap. Melihat pada kenyataan yang pahit tentang cinta memang terkadang membuat ku gusar, akan tetapi bukankah cinta memang begitu adanya. Terlihat sangat megah dan flamboyan sementara sayap-sayap pisau tersembunyi dibalik tabir lakonnya, siap untuk menyayat. Permukaan bumi yang mana yang tak terlihat warna aslinya ketika mentari menyinarinya, warna-warna mereka kan terlihat aslinya, hijaunya gunung birunya laut. Sementara yang benar-benar hitam tak kan dapat menyamar dan berpura-pura menjadi hijau atau biru seperti saat malam. Begitupun warna cinta yang kan kita dijalani akan terlihat sesungguhnya oleh waktu.

Telah banyak kata-kataku yang tumpah di taman kota, bersamamu aku hanya bisa berkata lepas dalam canda. Pesona mu terlalu dahsyat untuk aku redam. Kalimah sakti ku terdengar parau di telinga mu dan sangsi dalam hatimu. Hingga membuat air sungai yang jernih berubah menjadi cemar. aku kira perangaimu tanpa pernah berpura-pura. Dalamnya hati wanita terlalu sulit untuk aku selami dan aku pahami.  Aku akui.. Aku kalah, aku menyerah. Kini aku harus pulang kembali.

Potret – potret mu masih tersimpan rapi dalam album biografi perjalanan hidup ku, mengingat itu semua aku rindu, ingatkah ketika senja aku ajak kau pada sebuah dermaga yang beralas dan berbatas jati, angin la nina menerpa keras pada rambut hitam panjang mu, dan  aku menyingkap rambut – rambut liar yang menutupi  wajah dan telinga mu, lalu ku bisikan ke telinga mu “ Aku tulus menyayangi mu”.

Bila rasa rindu menyergap mu, maka singgahlah ke rumah ku, yang dinding –dindingnya penuh bertuliskan puisi tentang mu. Bila benar datangnya hadir mu ke rumah ku, maka jamuan yang mana yang teristimewa  kan ku suguhkan untuk mu, lantas berbincanglah kita didepan balkon dengan saling pandang, dan aku tuangkan teh dari teko tanah liat ke cangkir mu. Aku pun rindu hadirmu yang seperti itu, aku akan selalu menunggu mu datang kesini, kerumah ku dengan banyak rindu.

Kabar haru dari mu terdengar sakit ditelinga ku, aku kira hari – hari mu sudah dihiasi senyuman yang mengembang dengan pangeran pilihan ibu mu itu. Kini sudah 42 tahun bersilam, aku masih saja menulis puisi yang semakin memenuhi dinding rumah ku ini, namun cerita tentang  mu belum juga berkesudahan untuk aku tulis. Di kursi goyang yang menopang tubuh renta ku, aku masih mengharap hadir mu, selalu ku harap, meski kau datang hanya menaruh seikat bunga diatas pusara ku.

Kenapa Obsesi mu tak ada bung, terlihat kering sekali seperti pelepah kelapa yang merunduk dan mati, sementara beringin di sampingmu sangat rimbun daunnya. Wajah mu seperti pejalan kaki yg cemar oleh debu trotoar. Wah.. Kau begitu kusam, segarkanlah dirimu dahulu di sungai yg mengalir jernih. Sungguh aku benar-benar bersusah hati melihat banyak pujangga yang linglung dan kusut seperti serabut. Mampu berbicara banyak dengan pena, namun diam membisu ketika berhadapan dengan perempuan idamannya. Getarannya memang merusak fungsi logika dan pancarannya merupakan maghnit yang merekatkan bibir. Ohh.. aku bukanlah sama dengan pujangga seperti itu, namun aku juga belum benar-benar dapat berbeda dengan mereka.

Namun itulah sikap mu, menjerumuskan dirimu pada hisapan yang dalam, mengharapkan dapat balasan bahagia. Kau tentu ingat bahwa mawar itu berduri dan akan layu termakan waktu. aku belum kalah, kamu belum kalah, kita semua belum kalah. Pertarungan cinta terlalu rimba aturannya, tidak pula melulu dilakukan dengan cara-cara yang logis.

Kau seniman tak bertuan, maka bebaskanlah karya-karya mu tetap menggerayangi jiwa permaisuri mu, tulislah puisi-puisi melebihi indahnya zamrud Afrika. Meski setiap kalimat tak pernah diindahkannya. Sebab berhenti adalah kematian! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar