Ada lagi percakapan unik seorang nenek dengan anjing kesayangannya, anjing kecil yang saya tau ras nya Siberian huskey dengan si nenek yang ber “ras” tionghoa ataupun china. Si nenek dan si anjing komunikasi satu arah bagi saya dan orang-orang lain yang mendengar, mungkin bagi si nenek itu merupakan komunikasi dua arah yang dilakukannya dengan anjingnya. Entah masuk akal atau tidak, setau saya orang yang mampu berkomunikasi dengan binatang hanya sang Nabi Sulaeman AS.
Saat itu pukul 9 pagi hari di sebuah terminal lebak bulus jakarta. saya yang sedang menunggu teman saya Nisha untuk balik ke bandung bareng dari Jakarta, maklum wanita biasa datang telat. Di jejeran bangku pojok terminal tempat saya menunggu, saya yang sedang asik membaca koran untuk mengalihkan waktu yang membosankan saat menunggu saat itu melihat seorang nenek yang baru datang ikut duduk dibangku jejeran penunggu juga.
Belum sampai pantat si nenek menempel dengan bangku plastik terminal dia sudah menegur anjing kecilnya yang menggongong, “hei kamu jangan seperti itu, orang lain nanti pada takut sama kamu” serentak kami yang berada disekitar anjing pun memang siaga takut-takut si anjing mengigit. Lantas diangkat si anjing ke bangku sebelah nenek itu duduk. Lanjutnya si nenek bilang pada anjingnya “ini terminal bukan gelora senayan, jadi orang-orang tidak terbiasa dengan anjing” hmm.. memang ini bukan senayan yang dengan biasa kita dapat melihat majikan dengan binatang peliharaannya berjoging bersama.
Ketika keadaan sudah mulai normal kembali, tepatnya keadaan si nenek dan anjingnya. Tiba-tiba dibalik warung samping nenek itu duduk ada seorang bapak penjual Koran menggonggong seperti anjing juga, saya mengerti niatnya untuk meledek anjing si nenek, ataukah meledek si nenek. Sepertinya malah si nenek yang merasa terledek, karena saya lihat anjingnya tetap saja tenang tapi malah si nenek yang kembali “berceramah” dan bilang pada anjing nya “sudah kamu diam saja, jangan membalas menggonggong. Biarin aja orang mau bagaimana sama kita yang penting tidak perlu membalas” ucapnya.
Entah, mungkin si nenek merasa terganggu dengan gonggongan olok-olokan si bapak terhadap anjingnya, tapi kami yang disitu juga merasa tersinggung saat semula si nenek bilang “ini terminal bukan senayan”. disitu banyak orang yang memasang raut muka tidak mengenakan jika saya perhatikan.
Tapi, pelajarannya adalah bahwasannya anjing merupakan binatang yang pintar yang seakan dapat mengerti ucapan majikannya, memang menurut cerita-cerita anjing bukan saja hewan yang pintar tetapi juga termasuk hewan yang setia pada majikannya, saya tambah yakin setelah nonton film true story “Haciko” tentang seekor anjing yang setia pada majikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar