Ikhlaskah Adik, jika terpaksa harus
menunggu Abang.
Abang yang sedang menempuh
ujian-ujian kemapanan.
Harapan Adik dalam doa agar Abang
dapat membawa Adik pada kegemilangan.
Sketsa hidup biarlah Abang yang buat, sedang Adik silahkan penuhi
warna-warna goresan Abang nanti.
Pada hidup Abang dan Adik, Abang nak membangun istana sederhana
agar Adik nyaman tinggal di dalamnya.
Yang akan kita isi dengan perabotan-perabotan cinta,
kasih sayang, tawa canda, emosi, ambisi dan nafsu kita berdua.
Telah Abang bangun pula cita-cita
Abang agar berdiri pula surau pada istananya yang sunyi yang akan kita isi
dengan ibadah kita bersama-sama.
Yang pada halamannya kan di isi
kolam-kolam yang penuh ikan-ikan yang berwarna merah dan emas.
Yang pada halamannya kita tanami tanaman-tanaman yang
dapat kita petik buahnya, pada dikemudian musim.
Saat fajar Adik buatkan Abang
secangkir kopi kesayangan, dan kemudian duduklah kita berdua saling berbincang di
pelataran istana kita.
Dan pada malam-malam hari kita
tunaikan nafsu kita berdua di atas ranjang empuk dengan penuh peluh dan cinta.
Karena Adik hidup Abang sukar untuk
kalah, sukar untuk bersusah hati. Dan terciptalah kesempurnaan hidup.
kau laki-laki,aku juga laki-laki, kita sama-sama laki-laki.
BalasHapusKemana kita pergi tentulah istana yang dicari.
Harta, tahta dan wanita adalah isi dari sebuah istana.
Ketika kau bangun istana mu, berbenahlah. Sebab sifat dari manusia adalah bosan dan takut yang menuju keserakahan, maka benahilah istanamu kelak dengan ilmu pengetahuanmu yang menurut mu indah dan indah itu mereka anggap seni agar tak bosan dan takut kau tinggal didalamnya.
Walaupun kau punya istana yang dipenuhi harta, tahta dan wanita, itu semua tak mampu menjagamu hidup di dunia, tetapi ilmu bisa menjagamu dimana engkau berada. (Imam Al-Jabluk, 2011).
great comment kang imam al-jabluk. hatur nuhun sudah mampir di postingan ini. senang berteman dengan akang. :D
BalasHapus