Selasa, 27 September 2011

banyak yang bingung dan yang jenuh!

hidup aku, teman-teman ku, atau mereka yang tak kenal sayapun sepertinya sama saja, banyak yang bingung. mari saya uraikan sedikit cerita yang tidak menarik sepertinya. aku lihat di kampus, di kosan, di tempat nongkrong atau tempat makan sekalipun akhir-akhir ini berbicara hal yang kita anggap menjemukan. Golongan pertama teman-teman saya yang sudah kerja menceritakan lelahnya bekerja seakan waktu di renggut oleh ego nya perusahaan ego nya pekerjaan yang tak habis-habisnya walau dikerjakan setiap hari, minggu, bahkan bertahun-tahun mungkin. Golongan kedua teman-teman saya yang sudah lulus menjadi seorang sarjana dari kampus-kampusnya mereka bercerita bingung dan jemunya melamar pekerjaan sana-sini di perusahaan yang membuka lowongan namun tak memilih mereka untuk menjadi pegawainya, sedangkan syarat dan ketentuan dalam lowongan kerja mereka cukupi, hingga pada tahan interview mereka lakukan dengan performance yang maksimal tetap saja tak memberi kesempatan untuk mereka bekerja di perusaannya. Golongan ketiga adalah mereka yang belum lulus dari kampus, golongan ini adalah golongan yang saya alami sekarang, keluh kesah kami dalam menempuh syarat sarjana yang belum juga kunjung terlaksana, kita bercerita tentang revisi-revisi draft skripsi yang tak juga di acc oleh pembimbing kami, sepertinya peribahasa "tak ada gading yang tak retak" hanya jadi momok yang tak diindahkan untuk urusan ini. saya paham bahwa setiap tingkatan hidup ini selalu menemukan kejenuhan dan kebingungan, bahwa kita dituntut untuk tetap dapat survive dalam setiap keadaan, bukan lari atau kabur dari persoalan tapi harus dapat menemukan jalan keluarnya. kesempatan selalu ada untuk kita keluar dari masalah, cari dan ambilah kesempatan itu maka kita akan dapat tersenyum senang pada akhirnya.

Selasa, 02 Agustus 2011

malam-malam di pinggir jalan aku sendiri

tepat malam minggu sepulang ku dari bandung kota, aku menyempatkan untuk menikmati suasana di pinggir jalan.
disini aku duduk bersila sendiri, tanpa lawan bicara
berlesehan dipinggir trotoar sebuah warung angkringan di jalan satu arah jatinangor
sudah sejak sejam yang lalu aku menikmatinya dengan segelas wedang kopi susu, rokok, dan lagu-lagu eddie vidder dari handphone butut ku.
ditikar sebelah sekumpulan muda-mudi pengemudi vespa yang asik bercengkrama sesama kawannya.
sesekali lampu kendaraan yang melintas dari arah barat cukup memeriahkan jalan di hadapan ku.
kini sudah jam 11 malam, rokok ku telah habis,juga gelas ku wedang ku tinggal tersisa ampas kopi saja. saatnya aku dipersilakan untuk membayar dan pulang kekosan.

Senin, 04 Juli 2011

diam sendiri = berpikir

sering sekali ketika sepi atau dilema aku menjalani begini
duduk sendiri tanpa lawan bicara
di dalam kamar, di depan pintu, di pelataran atau pergi ke suatu tempat sendiri.
disaat itu juga aku merasa melakukan perbincangan hebat dalam fikiran ku
yang terangkum dalam dialog itu sebenarnya adalah perkataan otak dan hati ku sendiri
proses sederhana ini biasanya membuahkan hasil pemikiran baru tanpa campur tangan orang lain
banyak filosofi - filosofi baru yang ku buat dan tidak untuk dipublish
banyak khayalan - khayalan keren yang ku dapat
dan banyak juga perang - perang pemikiran yang ku buat sendiri alurnya
pada saat itu aku menganggap bahwa aku sedang dalam fase pematangan pola pikir ku.

obsesi asal ingat syukur

Jangan membebani hidup dengan target - target
Karena target membuat hidup seperti berlomba
Penuh persiapan, penuh latihan dan penuh strategi
Jika target tercapai mungkin ada kepuasan sementara sebelum menjalani target selanjutnya
Tapi jika target gagal maka hanya menjadi beban fikiran dan beban perasaan kecewa
Alangkah menyenangkannya bila hidup dijalani mengalir apa adanya
Dengan begitu hidup serasa berwisata
Yang ada hanya ketakjuban karena kita mengalami hal yang tak pernah direncanakan
Apabila dengan itu hidup terasa banyak penghalang yang tak terduga
Maka anggap saja kita sedang wisata adventure yang menantang kita tetap survive
*sebenarnya tidak penting harus menjalani hidup dengan target atau mengalir apa adanya, yang terpenting adalah kita menjalani apa yang menjadi kewajiban kita, jangan rakus obsesi sehingga kita lupa bersyukur.

Rabu, 29 Juni 2011

khairizal anwar sedikit menggurui

cinta adalah anugrah yang diberikan oleh Tuhan
dalam cinta yang ada hanya keindahan
jika cinta telah membuatmu murung, kesal, atau sedih
maka hati-hati barang kali itu bukan cinta melainkan hanya sebuah obsesi

*lagi-lagi saya berpesan:
"JANGAN PERCAYA BEGITU SAJA DENGAN KATA-KATA SAYA, SEBAB SAYA SENDIRI RAGU"