aku mengerti mencintaimu berarti siap menjadi korban
melesatkan anak panah-anak panah kecemburuan yang menikam
dari singgahsana cintamu, alur cerita itu kau atur
delapan kesatria bertarung memamerkan kebolehan
ratu tetap saja diam dengan hidangan yang dituang
buah-buah syurga sebagai upeti tak menjatuhkan simpati pada siapa
aku tancapkan pedang dewa cinta di lapang pertarungan
aku adalah sang pangeran sayembara yang berjuang tenang dan diam-diam
mungkin ratu ingin melepas dahaga dari suguhan darah pemberian pemenang
tunaikanlah pilihan, hingga menjadi sejarah dan kisah ini berkesudahan.
hidup ini setiap harinya selalu dihabiskan dibawah canopy langit yang sama, hingga kita tanpa sadar hidup satu atap dengan yang lainnya..
Selasa, 20 Desember 2011
Jumat, 25 November 2011
Anissa Permatasari
Prolog>>
Anissa
permatasari, saya hafal nama panjangnya sejak saat dimana dia “datang”
menghampiri kehidupan ku. Aku memanggilnya nisha, anak perempuan umur 20an
sejak dia datang ke Bandung, kota dimana saya sedang menempuh pendidikan tingkat
perguruan tinggi. Disini pula, di Bandung dia menjalankan niat yang sama
seperti saya. Sejak setelah 3 tahun setelah saya “menetap” di Bandung, nisha
menelepon saya pada suatu malam untuk menanyakan informasi-informasi tentang
perguruan tinggi saya, dari situ saya tahu kalau dia ingin melanjutkan S1 di
perguruan tinggi yang sama dengan saya, setelah sebelumnya dia menyelesaikan
studi D3 nya di perguruan tinggi di Jakarta. Entah darimana dia tahu nomer
kontak saya, namun yang jelas nisha perempuan yang sudah saya kenal sebelumnya,
karena kami dulunya memang satu sekolah walaupun tak pernah satu kelas,
sehingga tak begitu akrab saat itu.
Sejalan
dengan waktu, setelah beberapa bulan nisha “resmi” menetap juga di Bandung
seperti saya, akhirnya kami bertemu pada kali pertama di Bandung. Saat itu
bulan ramadhan kita buka puasa bersama di tempat makan pinggiran jalan simpang Dago
Bandung. Setelah itu banyak lagi pertemuan - pertemuan kita yang terangkum
dalam kisah cerita. Akhir cerita, nisha lulus dan diwisuda lebih dahulu dari ku
setelah dua tahun hidup dengan “nasib” di kota persinggahan yang sama.
Testimonial>>
Nisha,
dalam “penglihatan ku” merupakan perempuan yang banyak memiliki “warna”
kehidupannya sendiri. Perempuan yang bersahaja dalam tingkah pada orang - orang
yang menjadi temannya. Perempuan yang mengerti bagaimana cara memperlakukan teman
- temannya sehingga nyaman dengannya. Perempuan yang selalu telihat ceria dan
memberikan keceriaan bagi orang-orang didekatnya. Perempuan yang sangat perhatian
dengan orang-orang yang berada di samping hidupnya. Perempuan sederhana yang
berlaku dengan apa adanya tanpa perlu berpura-pura. Hingga aku pun melihatnya
sebagai teman yang istimewa.
Anissa, kini kau
telah menjelma menjadi perempuan dewasa.
Kemandirian dalam
hidup kini telah kau ciptakan sendiri.
Perempuan berjilbab
cantik kini telah menemui jalannya sendiri.
Yang setia
mendampingi kau kini adalah guru - guru dari ilmu dan pengalaman mu dahulu.
Janganlah semangat
mu patah dalam kerasnya renda - renda kehidupan yang kau jalani.
Bila nanti kau
berhadapan pada sebuah persimpangan dalam hidup mu, janganlah itu membuat mu
ragu, janganlah itu membuat mu takut.
Karena aku
mengenal mu sebagai perempuan tegar, jadi ku mohon jangan bersedih.
Sebab, yakinlah bahwa
Tuhan selalu ada dimana kau berada.
Kenanglah sejarah-sejarah
hidup mu yang dahulu, yang nakal maupun yang santun. Agar kau kenang pula
tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.
Dan kini ku
sertakan nama mu dalam doa, semoga kamu disana baik - baik saja.
Jadilah perempuan besar, bagai ratu adil yang hidup nyaman dalam istana serta dekat dengan rakyat -rakyatnya.
Jadilah perempuan besar, bagai ratu adil yang hidup nyaman dalam istana serta dekat dengan rakyat -rakyatnya.
Rabu, 23 November 2011
Unek-unek
Untuk mister “X”, saya banyak dengar gurauan anda yang
membuat kelompok diskusi anda tertawa sebagai penghargaan atas usaha lelucon
anda, anda bersikap seakan semua urusan itu mudah. Banyak juga anggota dari
kelompok anda yang “bermasalah” dalam aturan-aturan main anda. Saya salah
satunya, sebagai actor yang bermasalah saya banyak mangkir “kabur”
kesana-kemari mencari tempat peraduan ataupun motifasi dari pikah lain untuk
menghadapi penghakiman anda. Tidak ada rahasia bahwa kami orang-orang yang
terhakimi dari aturan anda merasa takut untuk berhadapan langsung dengan anda,
untuk mendengar ceramah-ceramah dari anda, terlebih lagi ancaman yang membuat
mental kami seperti karet, gampang melar dan gampang mengkerut. Mungkin itu
metode anda untuk membuat kami sadar bahwa jalan satu-satunya untuk menyadari
kami para terdakwa adalah dengan mengancam ataupun menakut-nakuti kami.
Beruntung bagi yang bermental “baja” seperti saya, mental saya malah menjadi
kuat dan tahan banting dengan ancaman anda, tapi betapa teragisnya
individu-individu yang tak tahan mental, mental mereka bukan jadi berkembang
tapi justru malah menjadi “kerdil”. Kami ini butuh dukungan moril dari anda
bukan ancaman. Maka maklum sajalah bila yang terjadi sekarang anggota-anggota
dari tim anda yang bermasalah tak ada perkembangan atau progress dari
aturan-aturan anda tapi malah menghilang dari hadapan anda. Mungkin saya harus
memberikan pesan ini langsung kepada anda bahwa treatment anda itu SALAH,
baiknya anda perbaiki lagi metode pendekatan persuasife anda kepada
anggota-anggota anda yang bermasalah. Tugas saya disini yang berlaku sebagai
anggota adalah mengerti karakter pemimpinnya, sedangkan anda sebagai pemimpin
hendak pula mengerti dengan karakter angota-anggotanya. Sekian terima kasih.
Jumat, 11 November 2011
alasan mondar-mandir
dosen bilang aku kurang jago melobi.
gimana mau kerja nanti?, dosen juga sama, manusia.
baiknya kau beri mereka upeti.
ya, sekarang silakan keluar ruangan.
gimana mau kerja nanti?, dosen juga sama, manusia.
baiknya kau beri mereka upeti.
ya, sekarang silakan keluar ruangan.
Jumat, 21 Oktober 2011
Istana Kehidupan Cinta Kita Berdua
Ikhlaskah Adik, jika terpaksa harus
menunggu Abang.
Abang yang sedang menempuh
ujian-ujian kemapanan.
Harapan Adik dalam doa agar Abang
dapat membawa Adik pada kegemilangan.
Sketsa hidup biarlah Abang yang buat, sedang Adik silahkan penuhi
warna-warna goresan Abang nanti.
Pada hidup Abang dan Adik, Abang nak membangun istana sederhana
agar Adik nyaman tinggal di dalamnya.
Yang akan kita isi dengan perabotan-perabotan cinta,
kasih sayang, tawa canda, emosi, ambisi dan nafsu kita berdua.
Telah Abang bangun pula cita-cita
Abang agar berdiri pula surau pada istananya yang sunyi yang akan kita isi
dengan ibadah kita bersama-sama.
Yang pada halamannya kan di isi
kolam-kolam yang penuh ikan-ikan yang berwarna merah dan emas.
Yang pada halamannya kita tanami tanaman-tanaman yang
dapat kita petik buahnya, pada dikemudian musim.
Saat fajar Adik buatkan Abang
secangkir kopi kesayangan, dan kemudian duduklah kita berdua saling berbincang di
pelataran istana kita.
Dan pada malam-malam hari kita
tunaikan nafsu kita berdua di atas ranjang empuk dengan penuh peluh dan cinta.
Karena Adik hidup Abang sukar untuk
kalah, sukar untuk bersusah hati. Dan terciptalah kesempurnaan hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)